Turikale, Marosnews.com – Apel Deklarasi Penolakan Paham Radikalisme digelar di Lapangan Pallantikang, Kecamatan Turikale, Senin pagi (30/01/2023).
Pelaksanaan apel dipimpin langsung Bupati Maros H.A.S. Chaidir Syam dan turut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Suhartina Bohari.
Apel deklarasi penolakan paham radikalisme ini dihadiri berbagai unsur, mulai dari ASN, forkopimda hingga organisasi kepemudaan seperti KNPI Maros dan GP Ansor Maros.
Dalam penyampaiannya, Bupati Maros Chaidir Syam mengajak semua pihak melakukan pencegahan penyebaran paham/gerakan radikalisme dan terorisme yang bertentangan dengan ideologi pancasila dan UUD 1945.
Dalam kesempata ini juga, Chaidir Syam menyampaikan dukungannya kepada TNI-Polri untuk menindak tegas pihak-pihak yang merusak persatuan NKRI.
“Mari dukung TNI dan Polri bertindak tegas sesuai aturan terhadap pihak-pihak yang merusak persatuan NKRI,” sebutnya.
Setelah pelaksanaan apel, kegiatan dilanjutkan dengan pendatanganan Deklarasi Paham Radikalisme.
Lalu Apa Itu Radikalisme?
Ada banyak pengertian mengenai radikalisme. Salah satu penjelasan mengenai radikalisme adalah paham yang bisa memengaruhi kondisi sosial politik suatu negara. Radikalisme kini sangat erat kaitannya dengan konsep ekstremisme dan terorisme.

Dalam sejarahnya, radikalisme merupakan hasil pemikiran dari aliran yang memiliki keterkaitan terhadap perubahan besar dan ekstrem. Radikalisme adalah gerakan yang sudah ada sejak abad ke-18 di Eropa. Kini radikalisme adalah konsep yang banyak ditentang dan diperangi karena banyak terkait dengan kekerasan.
Arti Radikalisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) radikalisme diartikan dalam tiga makna berbeda, pertama paham atau aliran yang radikal dalam politik; kedua paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; ketiga sikap ekstrem dalam aliran politik.
Apabila merujuk pada istilah kemunculan radikalisme adalah hasil dari pengembangan suku kata radikal. Adapun kata radikal berasal dari bahasa Latin, radix atau radici. Radix dalam bahasa Latin berarti ‘akar’. Istilah radikal mengacu pada hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala.
Dalam kamus Cambridge Dictionary, radikalisme adalah suatu kepercayaan atau bentuk ekspresi dari keyakinan bahwa harus ada perubahan sosial atau politik yang besar atau secara ekstrem.
Oxford Dictionary juga memahami ‘radikal’ sebagai orang yang mendukung suatu perubahan politik atau perubahan sosial secara menyeluruh.
Kamus Merriam Webster memberikan pengertian lain, radikalisme adalah bentuk opini atau perilaku orang yang menyukai perubahan ekstrem, khususnya dalam pemerintahan atau politik.
Kemunculan radikalisme juga dipercaya akibat adanya doktrin politik yang dianut oleh gerakan sosial-politik yang mendukung kebebasan individu dan kolektif, dan emansipasi dari kekuasaan rezim otoriter dan masyarakat yang terstruktur secara hierarkis.
Sejarah Kemunculan Radikalisme
Dilansir dari Ensiklopedia Britanica, terma radikalisme pertama kali digunakan oleh Charles James Fox, yang pada tahun 1797 mendeklarasikan “reformasi radikal”. Gerakan ini terdiri dari perluasan hak pilih secara drastis ke titik hak pilih universal. Istilah radikal kemudian mulai digunakan sebagai istilah umum yang mencakup semua pihak yang mendukung gerakan reformasi parlementer.
Di abad ke 19 atau tepatnya tahun 1848, istilah radikal digunakan untuk menunjuk seorang republik atau pendukung hak pilih universal. Memasuki abad ke-19, pemaknaan radikalisme berubah karena pengaruh bahwa manusia bisa mengontrol lingkungan sosial mereka melalui tindakan kolektif, sebuah posisi yang dipegang oleh apa yang disebut radikal filosofis.
Dalam perjalanannya, istilah radikalisme banyak melalang buana ke berbagai negara. Salah satunya di Amerika Serikat. Orang yang memiliki pola pikir radikalisme akan diartika sebagai sosok ekstremis politik dalam bentuk apa pun, baik kiri maupun kanan. Komunisme dianggap sebagai radikal kiri, sementara fasisme dianggap sebagai radikal kanan. Berbagai gerakan pemuda di Amerika Serikat, yang secara luas disebut radikal, dikaitkan dengan kecaman terhadap nilai-nilai sosial dan politik tradisional.