Perebutan Ketua Golkar Maros, Siapa yang Lebih Kuat?

Patarai Amir saat mengembalikan formulir di kantor Partai Golkar. Ia Kembali maju menjadi calon ketua di Musda ke 10 partai Golkar Maros.

MN, MAROS – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golongan Karya (Golkar) Maros, diagendakan akan “melelang” kursi ketua dalam waktu dekat. Setidaknya ada empat orang kader partai pohon beringin itu digadang-gadang akan berebut posisi tertinggi di Musda ke 10 partai itu.

Patarai Amir, yang saat ini menjabat Plt Ketua, pada Rabu (26/08/2020) sore, datang ke kantor Golkar untuk menyerahkan berkas pencalonan dirinya ke pihak panitia. Ia menjadi Plt, setelah masa jabatannya berakhir pada 18 Agustus lalu dan diperpanjang melalui SK DPD II Sulsel hingga pelaksanaan Musda.

“Hari ini saya resmi mengembalikan formulir pendafataran dan Bismillah saya nyatakan diri siap maju untuk kembali memimpin partai ini,” kata Patarai yang juga sebagai ketua DPRD Maros itu.

Read More

Patarai mengaku, kalau dirinya ingin kembali menjadi ketua, bukan semata-mata ingin mempertahankan jabatan. Melainkan masih banyak agenda penting yang belum bisa ia tuntaskan selama menjabat. Tak cuma itu, desakan beberapa pengurus yang meminta dirinya kembali maju, juga menjadi pertimbangan.

“Jadi bukan karena saya tidak rela melepas jabatan. Tapi memang selama saya menjabat, saya rasa masih banyak agenda yang belum saya tuntaskan dan masih tanggung jawab saya. Teman-teman juga masih banyak yang meminta saya kembali,” ujarnya.

Baca juga : https://marosnews.com/siap-gelar-musda-golkar-maros-ajak-kadernya-bertarung-jadi-ketua/

Selain Aso, sapaan akrab Patarai, ada tiga nama yang juga sudah mengembalikan formulir pendaftaran. Ada Mansyur Djanong dan Syarifuddin Puang Esa, keduanya merupakan legislator Golkar, serta politis senior Golkar, Fachri Makkasau selaku ketua salah satu organisasi pendiri Golkar.

Empat orang bakal calon itu, sedianya masih harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Diantaranya, dukungan minimal 30 persen dari total 20 orang pemilik suara. Syarat ini tentunya tidaklah mudah, selain kedekatan, faktor pengaruh juga sangat menentukan untuk mendapatkannya.

“Selain syarat-syarat lain seperti pernah menjadi pengurus Golkar aktif selama 5 tahun, ada juga syarat utama berupa dukungan minimal 30 persen dari pemilik suara dan tidak boleh ada dukungan ganda karena itu dibatalkan,” terang ketua Steering Committee (SC) Musda, Anwar Abdullah.

Setelah masa pendaftaran itu, panitia akan mengagendakan penyerahan syarat dukungan, mulai 1 sampai 4 September 2020. Dipastikan, dari empat kandidat hanya akan ada tiga orang saja yang lolos, sebab total pemilik suara jika dibagi, jelas tidak mencukupi.

“Harusnya kan minimal 6 suara dari 20 totalnya. Jadi kalau empat orang itu tidak cukup kalau dibagi. Maksmilanya hanya akan ada tiga kandidat saja yang lolos. Tapi tidak menutup kemungkinan juga bisa dua atau suara bulat jadinya aklamasi,” ucapnya.

Selaku penyelenggara, keempat bakal calon yang ada saat ini diakui memiliki peluang yang sama. Namun, tak dipungkiri, nilai tawar seorang Plt Ketua sekaligus ketua DPRD Maros, membuatnya diatas angin dari semua kandidat. Belum lagi, Aso juga dinilai berjasa mengembalikan partai Golkar sebagai pemenang di Pemilu lalu.

“Kita jami Musda ini berjalan demokratis. Semua kandidat punya peluang yang sama dan tidak ada yang kami istimewakan karena semuanya adalah kader terbaik partai ini. Soal siapa yang lebih kuat, itu kembali ke pemegang hak suara,” ujar Ketua Panitia Musda, Awaluddin.

Meski sudah dalam tahapan pendaftaran bakal calon ketua, Musda Golkar Maros ke 10 ini belum dijadwalkan hari dan tanggal pelaksanaannya. Namun dipastikan Musda itu akan digelar setelah masa pendaftaran Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Maros di KPU pada pekan depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.