Monumen Peninggalan Jepang Ditemukan Di Desa Samangki Simbang

TACB Maros temukan monumen peninggalan Jepang di Desa Samanngki Maros (foto : ist)

MAROS – Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Maros, menemukan monumen peninggalan Jepang di Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Oleh Arkeolog, monumen ini diyakini sebagai Perabuan Tentara Jepang.

Anggota TACB Maros, Muhammad Nur menjelaskan terdapat 8 monumen yang ditemukan. Tiang monumen berbentuk persegi empat dan memiliki inskripsi.

“Monumen ini memiliki deretan pancangan 8 tiang beton persegi empat dan memiliki inskripsi,” kata Muhammad Nur.

Read More

Lebih lanjut, Arkeolog Unhas tersebut menjelaskan sisi 8 tiang beton yang memiliki inskripsi hanya di bagian selatan dan utara, sedangkan sisi timur dan barat saling berdempetan rapat. Deretan tiang beton berinskripsi yang ditemukan memanjang dari barat ke timur.

Meskipun kalimat yang dikandung inskripsi tersebut tidak dapat terbaca secara utuh, tetapi berdasarkan karakter aksara, dapat diidentifikasi huruf-hurufnya yang menggunakan aksara Kanji dan berbahasa Jepang.

“Saat dilakukan penelitian, kalimat yang dikandung inskripsi tidak dapat terbaca secara utuh, tetapi berdasarkan karakter aksara, dapat diidentifikasi huruf-hurufnya yang menggunakan aksara Kanji dan berbahasa Jepang,” ujarnya.

Situs monumen Perabuan Tentara Jepang ini menempati lahan perkebunan masyarakat, hanya berjarak sekitar 30 meter dari jalan poros Maros-Camba.

Setelah dilakukan penelitian oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Maros, kondisi Perabuan Tentara Jepang ini masih asli.

“Kondisinya masih asli, dari periode pendudukan tentara Jepang di Maros antara tahun 1942-1945. Pada beberapa bagian permukaan beton, baik di sisi selatan maupun sisi barat terdapat pengelupasan bahan sehingga terdapat kerusakan inskripsi sekitar 30 %. Kondisi ini menyebabkan tulisan tidak dapat terbaca utuh,” bebernya.

Hingga saat ini, situs ini belum mendapat sentuhan program pelestarian dari lembaga pemerintah. Kondisinya juga berada pada lingkungan terbuka yang setiap saat dapat dikunjungi oleh siapapun.

Sekedar diketahui, hingga saat ini masyarakat di Kampung Taddeang, lokasi ditemukannya monumen perabuan ini masih sering kedatangan rombongan tamu dari Jepang yang ingin melakukan ritual ziarah kubur untuk leluhur mereka.