Makassar, MAROSnews.com – Eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah berimbas terhadap keberangkatan jemaah umrah di Sulawesi Selatan. Sebanyak 53 jemaah umrah yang harusnya diberangkatkan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, batal berangkat.

Terkait kondisi tersebut. General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Rully Artha mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan informasi serta berkoordinasi dengan maskapai penerbangan dan pemangku kepentingan terkait guna mengantisipasi potensi dampaknya terhadap operasional penerbangan.  

“Kami terus mencermati perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah dan memahami bahwa kondisi ini dapat menimbulkan kekhawatiran bagi calon jemaah umrah beserta keluarga yang sedang menantikan perjalanan ibadah ke Tanah Suci,”, ujar Rully.

Meski terjadi pembatalan, namun Rully menjelaskan bahwa penerbangan reguler tetap beroperasi, karena hanya jamaah umrah yang mengalami pembantalan.

“Penerbangan jemaah umrah menggunakan penerbangan Malaysia Airlines MH846 rute Makassar–Kuala Lumpur. Dalam penerbangan ini, terdapat total 83 penumpang, namun hanya 30 penumpang reguler yang diberangkatkan menuju Kuala Lumpur. Adapun khusus untuk 53 jamaah umrah mengalami penundaan dan tidak diberangkatkan dalam penerbangan ini,” jelasnya.

Rully mengimbau jemaah umrah dan keluarga untuk senantiasa berkomunikasi dengan maskapai penerbangan serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing guna memperoleh informasi terkini dan akurat mengenai jadwal keberangkatan dan ketentuan perjalanan.

“Masyarakat juga diharapkan merujuk pada kanal informasi resmi dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi,” paparnya

Rully juga menuturkan bahwa perjalanan umrah memiliki makna spiritual yang mendalam bagi setiap jemaah. Oleh karena itu, pihaknya pun berharap situasi keamanan di kawasan Timur Tengah segera membaik sehingga aktivitas penerbangan dapat berlangsung dengan aman dan para jamaah dapat menjalankan perjalanan ibadah dengan tenang.

“Bandara Internasional Sultan Hasanuddin akan terus mengikuti perkembangan situasi dan memberikan dukungan pelayanan sesuai dengan kewenangan serta prosedur yang berlaku,”pungkasnya.

Jamaah Umrah Terkena Serangan

Dilansir dari CNN, serangan yang dilancarkan oleh kelompok Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober 2026, menewaskan sedikitnya 12 hingga 13 orang dan melukai 309 orang, termsuk jemaah umrah yang sedang berada di bandara.

Sementara Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi sebelumnya mengonfirmasi bahwa serangan pada Sabtu 10 Oktober tersebut menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya.

Sejumlah korban luka dilaporkan berada dalam kondisi luka serius.

Korban tewas terdiri atas empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir.

Dua dokter juga mengatakan kepada wartawan bahwa sejumlah jemaah yang hendak beribadah ke Makkah terluka saat menunggu giliran naik pesawat di bandara tersebut. (*)

Edr/Rep : Bhr