Makassar, MAROSnews.com – Universitas Hasanuddin (Unhas) menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa (Dr. HC) kepada Perdana Menteri Timor-Leste, H.E. Kay Rala Xanana Gusmao, dalam Sidang Senat Akademik Terbuka di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Sabtu (05/09).
Penganugerahan gelar kehormatan tersebut didasarkan pada penilaian akademik terhadap perjalanan hidup, kepemimpinan, serta kontribusi Xanana bagi Timor-Leste, kawasan, dan kemanusiaan. Unhas menilai perjalanan Xanana mengandung nilai universal berupa keberanian, keteguhan, rekonsiliasi, perdamaian, demokrasi, dan kemanusiaan.
Promotor penganugerahan, Prof. Hafid Abbas, M.Sc., menjelaskan terdapat empat alasan utama yang mendasari penganugerahan Doctor Honoris Causa kepada Xanana.
1. Simbol Perjuangan yang Melahirkan Sebuah Bangsa
Xanana dipandang sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan lahirnya Republik Demokratik Timor-Leste. Perjalanannya berlangsung melalui fase panjang, dari perjuangan di medan perlawanan hingga diplomasi. Posisi tersebut menempatkan Xanana dalam bagian penting sejarah Timor-Leste. Dirinya memimpin rakyatnya melewati periode sulit dalam perjuangan menuju kemerdekaan.
“Xanana bukan hanya saksi sejarah lahirnya Republik Demokratik Timor-Leste, melainkan salah satu arsitek utamanya. Dirinya memimpin rakyatnya melewati masa-masa paling sulit dalam perjuangan menuju kemerdekaan, dari medan perlawanan hingga ke ruang-ruang diplomasi,” jelas Prof. Hafid.
2. Mengubah Luka Konflik Menjadi Jembatan Rekonsiliasi
Pertimbangan kedua berkaitan dengan kemampuan Xanana membangun rekonsiliasi setelah konflik Indonesia – Timor Leste. Pengalaman sejarah yang penuh luka tidak ia arahkan sebagai sumber kebencian antargenerasi. Xanana bersama para pemimpin Indonesia dan Timor-Leste turut membuka ruang hubungan baru yang bertumpu pada penghormatan dan persahabatan.
Bagi Prof. Hafid, pilihan tersebut memiliki makna penting dalam sejarah perdamaian. Perjalanan dari medan perjuangan menuju rekonsiliasi menghadirkan tantangan tersendiri. Seorang pejuang dituntut merawat hubungan, membangun kembali kepercayaan, dan membuka ruang perdamaian setelah konflik.
“Tidak semua pejuang mampu hadir sebagai pendamai. Namun, Xanana memilih jalan yang lebih sulit, memaafkan tanpa melupakan, mengingat tanpa mewariskan kebencian. Dirinya mengajarkan kepada dunia bahwa kemenangan terbesar bukan mengalahkan lawan, melainkan memenangkan masa depan bersama,” tambah Prof. Hafid.
3. Transformasi Dari Pejuang Menjadi Negarawan
Alasan ketiga terlihat dari peran Xanana setelah Timor-Leste memperoleh kemerdekaan. Perjuangan beralih dari medan konflik menuju pembangunan negara. Prof. Hafid menyebutkan, Xanana terlibat dalam pembangunan institusi, penguatan demokrasi, pembangunan nasional, serta perjuangan kepentingan Timor-Leste melalui jalur hukum dan diplomasi.
