Kecamatan Bontoa menjadi salah satu daerah yang diprioritaskan karena selama ini masih mengalami keterbatasan pasokan air bersih.

Chaidir Syam berharap proses pengadaan peralatan dapat segera direalisasikan sehingga peningkatan kapasitas produksi air bersih dapat segera dirasakan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros, Towadeng, mengungkapkan tiga kecamatan saat ini mengalami kekeringan paling parah, yakni Bontoa, Lau, dan Maros Baru.

Di Kecamatan Bontoa, sekitar 90 persen dari tujuh desa dan kelurahan telah terdampak kekeringan.

“Di kecamatan ini ada sekitar 32 ribu jiwa dan memang mereka sudah sangat membutuhkan air bersih,” sebutnya.

Selain itu, dampak kekeringan mulai dirasakan di Kecamatan Turikale, Moncongloe, Mandai, dan Marusu.

Setiap musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Maros kerap mengalami krisis air bersih apabila hujan tidak turun dalam waktu sekitar satu bulan. Akibat kondisi ini, sebagian warga terpaksa membeli air bersih atau mengandalkan bantuan distribusi air dari pemerintah daerah. (*)

Edr/Rep : Bhr