Turikale, MAROSnews.com – Anggaran Rp2 miliar yang bersumber dari APBD dialokasikan untuk pengadaan peralatan upgrading guna meningkatkan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantimurung.
Langkah tersebut dilakukan untuk menambah produksi air bersih dari 125 liter per detik menjadi 200 liter per detik. sehingga distribusi air dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan peningkatan kapasitas IPA Bantimurung menjadi salah satu program prioritas pemerintah daerah untuk mengatasi keterbatasan pasokan air bersih di sejumlah wilayah.
“Dengan peningkatan kapasitas ini, distribusi air bersih diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama di Kecamatan Bontoa dan sejumlah desa yang selama ini masih membutuhkan tambahan pasokan air,” kata Chaidir Syam, usai rapat paripurna persetujuan bersama Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025 di Gedung DPRD Maros, Rabu 27 Juli 2026.
Lebih lanjut, Chaidir Syam menjelaskan awalnya peningkatan kapasitas IPA Bantimurung direncanakan dibiayai melalui skema pinjaman. Namun, rencana tersebut dibatalkan setelah pemerintah daerah melakukan kajian terhadap regulasi yang berlaku.
Sebagai gantinya, Pemkab Maros memutuskan membiayai pengadaan peralatan peningkatan kapasitas melalui APBD.
“Peminjaman itu tidak bisa dilakukan karena terbentur aturan. Jadi kita alihkan dengan menganggarkan langsung pembelian alatnya,” ujarnya.
Mantan Ketua DPRD Maros itu menilai, penambahan kapasitas produksi air bersih menjadi langkah strategis untuk memperkuat pelayanan Perumda Air Minum kepada masyarakat.
“Selama ini keterbatasan kapasitas produksi membuat distribusi air belum mampu menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan. Melalui pengadaan peralatan upgrading tersebut, kapasitas produksi IPA Bantimurung akan bertambah sekitar 75 liter per detik. Tambahan kapasitas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggan yang sudah ada, tetapi juga memperluas cakupan pelayanan ke wilayah baru,” tuturnya.
Kecamatan Bontoa menjadi salah satu daerah yang diprioritaskan karena selama ini masih mengalami keterbatasan pasokan air bersih.
Chaidir Syam berharap proses pengadaan peralatan dapat segera direalisasikan sehingga peningkatan kapasitas produksi air bersih dapat segera dirasakan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros, Towadeng, mengungkapkan tiga kecamatan saat ini mengalami kekeringan paling parah, yakni Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
Di Kecamatan Bontoa, sekitar 90 persen dari tujuh desa dan kelurahan telah terdampak kekeringan.
“Di kecamatan ini ada sekitar 32 ribu jiwa dan memang mereka sudah sangat membutuhkan air bersih,” sebutnya.
Selain itu, dampak kekeringan mulai dirasakan di Kecamatan Turikale, Moncongloe, Mandai, dan Marusu.
Setiap musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Maros kerap mengalami krisis air bersih apabila hujan tidak turun dalam waktu sekitar satu bulan. Akibat kondisi ini, sebagian warga terpaksa membeli air bersih atau mengandalkan bantuan distribusi air dari pemerintah daerah. (*)
Edr/Rep : Bhr
