“Hasil riset harus mampu dihilirisasi, diterapkan, dan memberi manfaat nyata. Ayam Alope menunjukkan bahwa inovasi kampus dapat berkembang menjadi solusi untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak,” ujar Prof. JJ.
Menurut Prof. JJ, pengembangan Ayam Alope akan diperkuat melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan agar distribusi bibit unggul dapat menjangkau lebih banyak wilayah. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi hilirisasi riset yang selama ini terus diperkuat Unhas.
Dalam ekosistem inovasi, hilirisasi merupakan tahapan penting yang menghubungkan hasil penelitian dengan implementasi di lapangan. Melalui proses ini, teknologi berkembang menjadi produk atau sistem yang memberikan manfaat nyata.
Kolaborasi untuk Memperkuat Dampak
Dekan Fakultas Peternakan Unhas, Prof. Dr. Syahdar Baba, S.Pt., M.Si., menjelaskan bahwa peningkatan kualitas genetik, penguatan produksi bibit, serta perluasan kemitraan menjadi fokus utama pengembangan Ayam Alope ke depan.
“Agar Ayam Alope dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat, maka langkah selanjutnya adalah mengembangkan kualitas genetik, produksi bibit, dan kolaborasi dengan pemerintah daerah,” jelas Prof. Syahdar.
Selain menyediakan bibit unggul, Unhas juga menyiapkan pendampingan teknis bagi peternak agar teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan secara efektif. Bagi Unhas, Ayam Alope merupakan contoh bagaimana riset dapat menghasilkan inovasi yang menjawab tantangan pembangunan.
Bersama inovasi lain seperti Jagung Jago, pengembangan Ayam Alope menjadi bagian dari komitmen Unhas untuk memperkuat ketahanan pangan melalui sains, teknologi, kolaborasi, dan hilirisasi.(*)
Edr/Rep : Bhr
