“Alhamdulillah dengan strategi ini sampai sekarang sudah kita temukan 47,65 persen. Kita berharap sampai akhir tahun bisa mencapai 90 persen bahkan 100 persen sehingga penanganan dan penyembuhan masyarakat bisa kita kawal,” paparnya.
Chaidir Syam mengungkapkan program Sipakatau telah berjalan efektif selama hampir dua tahun.
Meski demikian, tantangan terbesar masih berasal dari stigma masyarakat terhadap penyakit TB. Banyak warga yang enggan memeriksakan diri karena merasa malu atau menganggap gejala yang dialami hanya batuk biasa.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menghadirkan layanan khusus bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk agar lebih nyaman menjalani pemeriksaan.
“Kita buat pojok tersendiri sehingga mereka tidak malu. Privasi pasien tetap terjaga karena hanya dokter, perawat, dan pasien yang mengetahui kondisi tersebut,” katanya.
Selain sektor kesehatan, Chaidir Syam menegaskan Pemerintah Kabupaten Maros juga terus memberikan perhatian besar pada sektor pendidikan.
Menurutnya, dua sektor tersebut menjadi prioritas utama dalam pengalokasian anggaran daerah tanpa mengabaikan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan.
“Kita terus berupaya menjaga kesehatan dan pendidikan di Maros. Karena itu anggaran pada kedua sektor tersebut cukup besar, namun pembangunan infrastruktur prioritas tetap berjalan,” tutupnya. (*)
Edr/Rep : Bhr
