Turikale, MAROSnews.com – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maros berdasarkan data Badan Pusat Stastik (BPS) untuk Triwulan 1 tahun 2026 tumbuh sebesar 9,54 persen. Terkait pertumbuhan ini, Kepala Bagian (Kabag) Umum BPS Sulsel, Lukitoningtyas menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Maros lebih tinggi dari Sulawesi Selatan (Sulsel).
“Pertumbuhan ekonomi triwulan 1 2026 Kabupaten Maros 9,54 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Sulsel yang hanya sebesar 6,88 persen,” kata Lukitoningtyas dalam sambutannya saat pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Ruang Pola Kantor Bupati Maros, Selasa, 16 April 2026.
Dengan petumbuhan ekonomi ini, lukitoningtyas menjelaskan bahwa Kabupaten Maros saat ini menempati peringkat 3 di Sulsel. “Secara year on year untuk triwulan 1 tahun 2026, Kabupaten Maros ini ranking 3 di bawah Kabupaten Sinjai dan Selayar,”ujarnya.
Lukitoningtyas menilai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi merupakan kabar baik bagi Kabupaten Maros. Ia pun berharap agar ke depannya performa pertumbuhan ini bisa terus dipertahankan.
“Semoga ke depannya untuk triwulan 2 sampai triwulan 4 performa pertumbuhan ini bisa tetap dipertahankan sehingga nanti untuk pertumbuhan tahun 2026 sesuai yang diharapkan,”paparnya.
Pemkab Maros Dukung Sensus Ekonomi 2026
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang akan dilakukan oleh BPS selama dua bulan lebih di Kabupaten Maros, mendapat dukungan penuh dari Bupati Maros Chaidir Syam.
Chaidir Syam menginstruksikan seluruh jajarannya, mulai Kepala Desa, Lurah hingga Camat agar memnberikan dukungan dalam pelaksanaan sensus ekonomi yang digelar setiap 10 tahun tersebut.
Selain itu, Chaidir Syam juga mengumbau warga Maros agar tidak takut memberikan data kepada petugas sensus saat melakukan pendataan.
“Jadi saat pelaksanaan sensus ekonomi akan ada petugas lapangan yang melakukan pendataan. Tidak perlu takut memberikan data kepada petugas, karena data yang diberikan akan dijaga kerahasiaannya, terutama data perusahaan,” tuturnya.
Chaidir Syam juga menyampaikan bahwa data hasil Sensus Ekonomi 2026 juga akan menjadi acuan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan, sehingga ia berharap agar data yang dihasilkan benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.
Sementara Kepala Bagian (Kabag) Umum Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, lukitoningtyas menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, terdapat hal-hal baru terkait pendataan kembali di sektor pertanian, termasuk updating kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Sensus ekonomi digelar setiap 10 tahun sekali, terakhir pelaksanaannya di tahun 2016. Selama 10 tahun ini terjadi pergeseran di dalam perekonomian Sulsel, termasuk Kabupaten Maros,” ujarnya.
Pergeser ekonomi terjadi karena saat ini kecenderungan berbelanja masyarakat sudah menggunakan jasa online tanpa harus datang langsung ke pasar atau mall.
“Dulu kalau mau belanja, mau bertransaksi, harus pergi ke pasar atau ke mall, harus pergi ke pedagang-pedagang tempat kita membeli barang. Sekarang di tahun 2026 terjadi pergeseran aktivitas ekonomi, untuk berbelanja, tidak harus pergi ke tokonya langsung, tapi bisa menggunakan jasa online,” jelasnya.
Edr/Rep : Bhr
