Setelah meninggalkan RSUD dr La Palaloi, Syahrani mengaku kembali membawa ayahnya ke rumah sakit sebelumnya. Di sana, pasien kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan berupa USG dan pemeriksaan darah.

Hasil pemeriksaan tersebut, menurut Syahrani, menunjukkan adanya tumor. Pemeriksaan juga menunjukkan kadar bilirubin yang tinggi.

“Di sana langsung USG, pemeriksaan darah, ternyata ayah saya ada tumor di saluran empedunya. Ukurannya sekitar 5,5 sentimeter. Itu yang saya sayangkan, seharusnya ayah saya diterima dulu.diperiksa dulu, kalau memang tidak ada tempat tidur setidaknya diberikan pertolongan pertama,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama RSUD dr La Palaloi, dr Sri Syamsinar, membantah pihaknya melakukan penolakan pasien. Dia menyebut kapasitas tempat tidur IGD saat itu sedang penuh.

Menurut Syamsinar, satu tempat tidur yang terlihat kosong disiapkan untuk tindakan kegawatdaruratan, sedangkan empat tempat tidur lainnya diperuntukkan bagi pasien anak.

Sri juga mengklaim pasien telah diperiksa dokter jaga dan berdasarkan pemeriksaan awal dinilai tidak masuk kategori gawat darurat sehingga diarahkan ke puskesmas terdekat sesuai alamat tempat tinggalnya.

“Bukan penolakan. Memang situasi pada saat itu IGD sementara full,” kata Sri.

Pihak rumah sakit juga menyebut kapasitas IGD mencapai 38 tempat tidur. Dalam dua bulan terakhir, tempat tidur tersebut diklaim selalu terisi akibat tingginya jumlah kunjungan pasien. Bahkan, sejumlah pasien rujukan disebut terkadang harus menunggu satu hingga dua jam untuk mendapatkan tempat tidur. (*)

Edr/Rep : Bhr