Turikale, MAROSnews.com – Kemarau bekepanjangan akibat El Nino menyebabkan dua dari empat Instalasi Pengelolaan Air (IPA) di Kabupaten Maros tidak berfungsi karena kehabisan air baku. Saat ini distribusi air bersih hanya mengandalkan dua IPA yang masih beroperasi normal, yakni IPA Bantimurung dan IPA Tanralili.

“Saat ini kita hanya berharap pada dua IPA, yakni Bantimurung dan Tanralili. Dua IPA ini masih berfungsi normal,” kata Bupati Maros Chaidir Syam di sela kunjungannya saat meninjau langsung kondisi IPA Tanralili.

Untuk kedua IPA yang masih berfungsi normal tersebut, Chaidir Syam menuturkan IPA Bantimurung masih terus memberikan pelayanan dengan kapasitas 120 liter per detik, sedangkan IPA Tanralili 60 liter per detik.

Mengenai dua IPA yang sudah tidak berfungsi lagi, Chaidir Syam menjelaskan karena kehabisan air baku.

“Yang jadi persoalan sekarang adalah dua IPA sudah tidak berfungsi lagi karena kehabisan air baku. IPA Pattontongan sudah tidak berproduksi lagi karena sumber air baku dari Sungai Lekopancing sudah tidak masuk lagi ke pipa Pattontongan,” sebutnya.

Terkait dengan kekeringan yang terjadi saat ini, Chaidir Syam mengungkapkan pemerintah telah melakukan mitigasi terbaik untuk menjaga suplai air bersih. Ia juga mengajak masyarakat agar bijak menggunakan air bersih dan saling menjaga.

“Mari kita berdoa semoga El Nino ini segera berlalu dan kondisi kembali normal,”sebutnya.

Prediksi Musim Hujan Akibat El Nino

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83 dengan nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63 yang mengindikasikan El Nino sangat kuat. Sementara di Samudra Hindia, tercatat indeks IOD bulan Agustus +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal, dilansir sebagai dilansir MAROSnews.com dari BMKG, Rabu 23 September 2026.

Cakupan wilayah yang mengalami musim hujan mulai November di antaranya yaitu sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan. Kemudian musim hujan bulan Desember dialami sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan (Kalsel), sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Malut, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.(*)

Edr/Rep : Bhr