Turikale, MAROSnews.com – Kabupaten Maros termasuk wilayah yang mengalami kemarau panjang di tahun 2026. Hujan di wilayah ini baru terjadi pada akhir Oktober sejak mulai memasuki kemarau pada akhir Juni lalu.

Kemarau panjang akibat fenomena El Nino tersebut menyebabkan delapan kecamatan terdampak kekeringan dan mengalami krisis air bersih, dengan rincian empat kecamatan zona merah dan empat zona kuning. Keadaan ini mengaruskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros melakukan pendistribusian air bersih menggunakan armada mobil tangki kepada kecamatan yang terdampak, utamanya yang masuk zona merah.

Namun demikian, di tengah kondisi kekeringan itu sektor pertanian Kabupaten Maros justru mampu unjuk gigi dalam hal produksi beras. Bahkan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Maros termasuk salah satu dari beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel) yang mampu meningkatkan produksi beras di tengah fenomena El Nino tahun 2026. Kabupaten lainnya yakni Takalar, Luwu dan Luwu Utara.

Produksi beras Maros tahun 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data produksi beras kabupaten/kota di Sulsel, periode 2025–2026, produksi beras Maros tercatat mencapai 113.306 ton pada 2026. Angka tersebut meningkat 6.040 ton dibandingkan produksi tahun 2025 yang mencapai 107.266 ton.

Secara persentase, produksi beras Maros mengalami pertumbuhan sebesar 5,63 persen. Capaian tersebut menempatkan Maros sebagai salah satu daerah di Sulsel yang berhasil mencatatkan peningkatan produksi beras.

Bupati Maros Chaidir Syam mengapresiasi peningkatan produksi beras di tengah fenomena El Nino. Menurutnya, capaian ini menjadi gambaran positif dari upaya menjaga produktivitas sektor pertanian di Kabupaten Maros.

“Kita patut bersyukur, di tengah kekeringan ekstrem yang melanda Indonesia terkhusus Maros, petani kita masih bisa menghasilkan produksi beras yang signifikan. Ini tentu menjadi hal baik untuk kedepannya, artinya petani kita bisa survive dengan bencana El Nino ini,” ujarnya.

Mantan Ketua DPRD Maros itu menilai peningkatan produksi beras menjadi hal penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah, terlebih di tengah tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi sektor pertanian.

“Peningkatan produksi ini juga menjadi modal penting bagi Maros untuk terus memperkuat posisi sebagai salah satu daerah penyangga pangan di Sulsel,” bebernya.

Lebih lanjut, Chaidir Syam mengatakan dari data yang dirilis BPS Maros, tidak banyak kabupaten/kota di Sulsel yang mencatatkan pertumbuhan produksi beras pada 2026. Selain Maros, peningkatan juga terjadi di Takalar, Luwu, dan Luwu Utara.

Maros bahkan mencatatkan kenaikan produksi yang cukup signifikan, yakni sebesar 6.040 ton dalam kurun waktu satu tahun.

“Kita tentu harus terus memperkuat sektor pertanian melalui dukungan kepada petani, peningkatan produktivitas lahan, serta upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan daerah,” pungkasnya. (*)

Edr/Rep : Bhr/Af