Maros, MAROSnews.com – Museum Mandala, Museum La Galigo, dan Museum
Karaeng Pattingalloang hadir di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros.
Tiga museum ini dihadirkan untuk memberikan pengalaman berbeda sekaligus memperkenalkan sejarah dan kekayaan budaya Sulawesi Selatan (Sulsel) kepada masyarakat, khususnya pengguna jasa bandara.
Dengan kehadiran museum pengguna jasa bandara tak hanya menikmati informasi sejarah, tetapi juga memperoleh pengalaman edukatif selama di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
“Ini merupakan terobosan baru dan sesuatu yang baru di Sulsel, khususnya di bandara. Kami melihat bahwa bandara memiliki potensi besar untuk menjadi ruang yang memperkenalkan berbagai informasi mengenai sejarah, budaya, dan pariwisata Sulsel,” kata General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, dalam keterangan tertulisnya yang diterima MAROSnews.com.
“Dengan sekitar 27 ribu pengguna jasa yang beraktivitas setiap harinya, tentu terdapat peluang besar untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat yang lebih luas,” tambahnya.
Kehadiran museum ini merupakan bentuk kolaborasi antara Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulsel.
Kepala Disbudpar Sulsel, Hj. Andi Mirna, S.H., M.A.P., mengapresiasi kolaborasi bersama PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) dalam membawa museum lebih
dekat kepada masyarakat melalui ruang publik bandara.
“Kehadiran museum di bandara menjadi sarana edukasi untuk mengenalkan sejarah dan warisan budaya Sulsel kepada
masyarakat maupun wisatawan,” sebutnya.
Andi Mirna berharap kolaborasi dengan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dapat terus dikembangkan sehingga meningkatkan pengetahuan dan
apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan budaya Sulsel, sekaligus menjadikan museum sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi pariwisata daerah.
