Malaysia, MAROSnews.com – Dua alumni Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Amrullah Amir dan Dr. Nasrullah Mappatang tampil di Sesi II Seminar Hukum Kanun di Alam Melayu: Tradisi Perundangan, Kedaulatan dan Transformasi Masyarakat.
Seminar ini berlangsung di Kutubkhanah Diraja, Kompleks Muzium Diraja Sultan Haji Ahmad Shah, Kuantan, Pahang, Rabu (21/10/2026). Seminar tersebut digelar Perbadanan Muzium Negeri Pahang dalam rangka peringatan 50 tahun Muzium Negeri Pahang.
Dalam sesi yang dimoderatori Dr. Nasrullah Mappatang, Dr. Amrullah Amir membawakan makalah berjudul “Hukum Perdagangan dan Pelayaran Amanna Gappa: Sebuah Warisan Kejayaan Maritim Kerajaan Gowa, Abad 17–18”.
Dalam pemaparannya, Amrullah yang merupakan dosen Departemen Sejarah FIB Unhas, mengulas kitab hukum pelayaran dan perniagaan Amanna Gappa yang disusun di Makassar pada abad ke-17. Kitab ini mengatur hubungan antara nakhoda, awak kapal, dan pedagang, termasuk soal bagi hasil, utang-piutang, dan tanggung jawab dalam pelayaran.
Menurut Amrullah, aturan tersebut membuktikan bahwa masyarakat Bugis-Makassar telah memiliki tradisi hukum maritim yang mapan. Tradisi itu menyertai jaringan pelayaran mereka hingga ke Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan berbagai pelabuhan di Nusantara.
Sebagai moderator, Nasrullah mengarahkan diskusi pada pertautan antara tradisi hukum perdagangan dan pelayaran Bugis-Makassar dan perundangan Melayu. Nasrullah adalah Associate Fellow di Pusat Kajian Kecemerlangan Melayu (PKKM), Universiti Malaya, sekaligus doktor lulusan Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya.
“Hukum Perdagangan dan Pelayaran Orang Bugis Wajo, yang salah satunya Hukum Amanna Gappa ini menunjukkan bahwa orang Bugis-Makassar tidak hanya berlayar, tetapi juga membawa sistem nilai dan aturan,” ujar Nasrullah.
“Ketika mereka hadir di dunia Melayu dahulu, yang kini di Semenanjung Malaysia kini, yang ikut berlayar adalah tradisi hukum, etika dagang, dan cara hidup bermasyarakat. Inilah warisan bersama Nusantara yang perlu terus kita baca ulang,” tambahnya.
Usai sesi, Sultan Pahang, Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, menghampiri kedua alumni Unhas tersebut. Baginda berbagi cerita tentang Kampung Mengkasar di Pekan, bandar diraja Pahang, yang namanya merekam jejak kehadiran orang Makassar di tanah Pahang. Baginda juga menyinggung Martabak Mengkasar, kuliner yang dikenal di Pahang.
Kehadiran dua alumni Unhas di forum Kesultanan Pahang ini, ditambah perhatian langsung dari Sultan Pahang dan pembesar Pahang yang hadir, memperkuat posisi kajian Bugis-Makassar dalam wacana sejarah dan kebudayaan Melayu serantau. Hal ini juga membuka peluang kerja sama akademik lanjutan antara Unhas dan institusi di Malaysia, termasuk kajian tentang komunitas keturunan Makassar di Pahang. (*)
Edr/Rep : Bhr/Rls
